Dalam pergerakan IHSG ada tiga faktor yang bisa saja mempengaruhi, apalagi jika kasus omicron ini terus melonjak.
Pertama yaitu faktor pergerakan tambang, seperti batubara dan nikel.
Kedua, hasil pertemuan Federal Open Market Committe (FOMC). Ketiga, perkembangan kasus covid-19 terutama varian omicron di Indonesia.
"Perkembangan varian omicron juga menjadi fokus karena ini dapat berdampak terhadap kebijakan PPKM yang diambil pemerintah," kata Analis Phillips Sekuritas, Helen.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga membenarkan, emiten-emiten sektor ritel dan segmen komersial di bisnis properti akan terpapar dampak negatif dari lonjakan kasus covid-19 dan pengetatan PPKM.
Baca Juga: Prediksi IHSG Hari Ini, Berikut Pilihan Saham yang Baiknya Dijual atau Dibeli
Kendati begitu, Herditya melihat apabila penanganan dari pemerintah dan antisipasi dari masyarakat menunjukkan respon yang baik, maka potensi gelombang ketiga covid-19 ini tidak akan berdampak signifikan bagi bursa saham.
Penanganan saat ini diyakini bisa semakin baik lantaran pemerintah dan masyarakat sudah lebih siap, belajar dari gelombang Covid-19 selama 2020-2021 lalu. Begitu juga dengan pelaku pasar.
"Kalau penanganan dan antisipasi lebih baik, tampaknya pengaruhnya lebih kecil dibandingkan kasus-kasus sebelumnya," sambung Herditya.
Untuk IHSG selama sepekan ke depan, Herditya melihat masih berpeluang untuk menguat dengan rentang 6.600-6.755.
"Ada baiknya para investor tetap mencermati perkembangan selanjutnya, baik dari omicron maupun ekonomi," tegasnya.
Artikel ini telah terbit di Kontan.id dengan judul “Ledakan Kasus Omicron Mengintai, Begini Efeknya ke Bursa Saham”.
Baca Juga: Apakah Aman Investasi Saham dengan Utang? Ini Kata Ryan Filbert