Kala itu Cap Go Meh dirayakan dengan tujuan menghormati dewa tertinggi di langit, Dewa Thai-yi.
Sebelum berakhirnya Dinasti Han, upacara perayaan Cap Go Meh dilakukan hanya untuk kalangan istana dan sangat tertutup.
Upacara ini biasanya dilakukan di malam hari dengan dibantu penerangan dari lampu-lampu.
Kehadiran lampion warna-warni ini seakan menjadi pelengkap dalam perayaan Cap Go Meh.
Di masa Dinasti Tang, masyarakat umum baru mulai merayakan Cap Go Meh.
Masyarakat akan turun ke jalan dengan membawa berbagai bentuk lampion.
Saat sinar bulan purnama yang sempurna menyinari malam, masyarakat akan menyaksikan tarian naga (masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan Liong) dan tarian Barongsai.
Kemudian masyarakat China berkumpul dan bermain teka-teki bersama.
Disediakan pula makanan khas Cap Go Meh berbentuk bola-bola. Makanan itu disebut Yuan Xiao.
Ada pula versi lain awal mula perayaan Cap Go Meh. Menurut Budayawan Tionghoa Kalbar, Lie Sau Fat, Cap Go Meh juga dikaitkan dengan cerita rakyat pada masa Dinasti Tung Zhou (770 SM - 256 SM).
Kala itu, setiap tanggal 15 bulan pertama Imlek, para petani akan memasang lampion (disebut Chau Tian Can) di sekeliling ladang dengan tujuan mengusir hama dan binatang perusak tanaman.
Selain itu, pemasangan lampion juga dilakukan agar petani bisa mengetahui cuaca sepanjang tahun dengan mengamati perubahan api pada lampion.
Baca Juga: 5 Shio Terima Angpao Paling Banyak Saat Imlek 2023, Bakal Dapat Hoki Beruntun
Demikian ulasan tentang arti Cap Go Meh dan sejarah di baliknya. Selamat merayakan Cap Go Meh.
Baca berita update lainnya dari Sonora.id di Google News