Pada negara yang memiliki iklim seperti China dan Amerika Serikat, musim flu biasanya akan terjadi pada bulan Desember dengan puncaknya terjadi di bulan Januari atau Februari, setelah itu kasus flu akan berkurang.
Pada tahun 2003, kasus SARS juga menghilang pada musim panas utara tahun 2003 dan tidak muncul lagi secara signifikan setelahnya.
Studi yang dilakukan bertahun-tahun menyebut jika virus corona ‘biasa’ (yang merupakan penyebab flu biasa) dapat bertahan 30 kali lebih lama jika berada di dalam tempat yang bersuhu 6 derajat celcius.
Baca Juga: Bongkar Inisial Penerima Fee hibah KONI, Imam Nahrawi Terima 1,5 M?
Namun tidak bertahan lama jika berada di tempay yang suhunya 20 derajat Celcius atau lebih.
Studi lain, ilmuwan dari Universitas Hong Kong (HKU) termasuk Profesor Malik Peiris dan Profesor Seto Wing Hong menyebut jika suhu rendah bisa dan kelembapan yang relatif rendang akan memungkinkan virus SARS bertahan lebih lam.
Tim HKU berpendapat bahwa ini bisa menjadi alasan mengapa negara di Asia Tenggara tidak memiliki wabah SARS, karena cuacanya yang hangat dan lembab.
Baca Juga: WNI Eks ISIS Bisa Kembali Pulang ke Indonesia, Ini Syaratnya