Melihat kondisi demikian, dirinya mengaku prihatin dengan masih maraknya narkoba, padahal jelas-jelas dampaknya berbahaya mendatangkan efek candu yang sulit untuk diputus.
Untuk itu, pihaknya menyampaikan bahwa hal ini menjadi tugas bersama seluruh elemen baik pemerintahan, aparat penegak hukum dan masyarakat untuk memperkuat fungsi pengawasan baik secara preventif maupun represif.
"Harus benar-benar menjadi pengawasan dari aspek preventif dan represif. Preventif ini tugas kira semua, sedangkan represif tugas dari aparat penegak hukum. Datanya lebih mengarah pada peningkatan cukup signifikan, kita sangat prihatin terhadap kondisi seperti itu," tuturnya.
Terkait sasaran kejahatan narkoba, menurut Prof Rai, sudah merambah dari kalangan usia anak-anak hinga orang tua yang didominasi usia produktif mulai dari remaja.
Baca Juga: Polisi Beri Tindakan Tegas: Potensi Peredaran Narkoba di Denpasar & Badung Masih Besar
"Sasaran kejahatan narkoba di Bali mulai dari kalangan anak-anak remaja hingga orang tua usia remaja gawat, sudah sangat riskan, walaupun sejak tahun 80-an perang melawan narkotika, tetapi kita belum pernah memenangkan perang itu," terangnya.
Sementara itu, pada masa pandemi Covid-19 BNNP Bali berhasil mengungkap kasus kejahatan narkoba melibatkan oleh seniman, pelatih surfing hingga event organizer, selain sebagai pemakai mereka juga beralih profesi menjadi pengedar karena keterbatasan penghasilan untuk membeli narkoba.
"Peningkatan narkoba di masa pandemi kemungkinan bisa terjadi karena masa pandemi ada kesulitan di bidang ekonomi, mereka mencari jalan pintas, salah satunya pengedar narkoba," tambahnya.
Baca Juga: BNNP Amankan 44 Kg Ganja dari Medan, 20.000 Orang Bali Terselamatkan