Menurut I Made Marthana Yusa, dkk dalam buku Komunikasi Antarbudaya (2021), komunikasi antarbudaya adalah proses pembagian informasi, gagasan, atau perasaan di antara mereka yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
Proses pembagian itu bisa dilakukan secara verbal (melalui kata-kata dan bahasa, baik lisan atau tertulis) dan nonverbal (lewat gerak-gerik tubuh, raut wajah, serta gaya penampilan).
Kajian komunikasi antar budaya berakar dari beberapa kajian ilmu lainnya, yaitu sosiolinguistik, sosiologi, antropologi budaya, dan psikologi.
Dalam komunikasi antar budaya, untuk mencapai proses komunikasi yang efektif, seorang individu harus harus memiliki kemampuan kompetensi antarbudaya.
Kompetensi komunikasi antarbudaya adalah kemampuan untuk mengelola seluruh aspek-aspek dalam komunikasi budaya, yang meliputi sikap in-group, perbedaan budaya, dan tekanan-tekanan.
Kompetensi komunikasi antar budaya terdiri dari beberapa aspek, yaitu motivasi untuk berkomunikasi, pengetahuan yang cukup mengenai budaya, kemampuan komunikasi yang sesuai, sensitivitas, dan karakter.
Nah, komunikasi antar budaya dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti:
Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antar budaya yang juga membahas satu tema yang sedang dipertentangkan.
Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan.
Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung pada persetujuan antar subjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama.