"Senin itu libur, terus Selasa (19/3/2024) nelpon saya lagi, awak e wes ra kuat," kata dia.
SH langsung mendapatkan penanganan dan dianjurkan untuk menjalani rawat inap pada hari Selasa sekitar pukul 09.00 WIB.
"Itu awalnya diagnosanya DB, terus diambil sampel darah," sebutnya.
Baca Juga: Siapkan Kampung Siaga Bencana Jadi Langkah Kemensos Mitigasi Bencana
Rabu (20/3/2024) kondisi SH semakin memburuk, hingga akhirnya harus melanjutkan perawatan dirumah ICU rumah sakit dan pada pukul 18.00 WIB SH dinyatakan telah meninggal dunia.
"Setelah itu baru mendapat penjelasan kalau ibu meninggal karena itu (Leptospirosis)," katanya.
Dalam sepengetahuan AT, sang ibu tidak memiliki luka terbuka seperti penjelasan dokter yang menyebut virus tersebut bisa menjangkit manusia melalui luka terbuka.
"Cuma ya telapak kakinya kering, terus pecah-pecah," tuturnya.
AT menambahkan bahwa adik SH juga pernah terjangkit penyakit yang sama, namun kejadiannya sudah cukup lama.
Selain itu, AT juga mengakui bahwa adik SH terinfeksi karena kondisi rumah mereka pernah terendam banjir.
AT mengakui bahwa tempat tinggal ibunya jauh dari sungai dan tidak pernah mengalami banjir.
"Kalau adiknya ibu rumahnya memang dibantaran kali. tapi kalau di sini sungai jauh, tidak pernah banjir, genangan saja tidak pernah," katanya.
Meskipun begitu, AT dan keluarganya telah menerima dengan ikhlas kepergian SH untuk selamanya.
"Jadi dapat virus dari mana saya juga kurang tahu. Ya keluarga sudah menerima dengan Ikhlas. mungkin sudah jalan takdir ibu seperti ini," tutupnya.
Penulis : Ika Andriani
Baca berita update lainnya dari Sonora.ID di Google News.