"Korupsi? Apa itu?" gumam Faiza, yang masih duduk di kelas enam. "Apa, Za?" sahut ibunya. "Itu, Bu... orang yang pakai baju oranye... Korupsi," jawab Faiza sambil penasaran.
Ibunya mencoba menjelaskan makna korupsi dengan bahasa yang bisa dipahami Faiza.
Sepatu Monita
Monita terlihat cemberut.
"Ada apa, Mon?" tanya ibu, baru saja selesai memasak. "Ini, Bu," kata Monita, menunjukkan sepatu barunya. "Alhamdulillah dong, Mon. Bapak sudah belikan sepatu baru," kata ibu.
"Tapi aku tidak suka, Bu... Jelek," keluh Monita.
Monita memang menginginkan sepatu baru karena yang lama sudah usang. Maka tadi, bapaknya mengajaknya ke toko sepatu.
Namun, Monita merasa sepatu barunya tidak sesuai harapannya, sementara ibu berusaha mengajarkan rasa syukur.
Amplop
Nisa memandangi beberapa amplop kecil putih yang ia pegang.
Di hadapannya, ada tumpukan uang pecahan sepuluh ribu, dua puluh ribu, dan lima puluh ribu di atas meja, bersama buku catatan kecil yang terbuka dan sebuah pena.
"Nisa, tolong masukkan uang ini ke amplop-amplop ini," pinta ibu, menyerahkan buku catatan berisi daftar nama beserta nominal uangnya.
"Kita harus berbagi, Nisa. Rezeki yang kita miliki, walaupun sedikit, ada hak orang lain," kata ibu dengan lembut, memberikan pelajaran tentang pentingnya berbagi dan membersihkan harta.
Nisa mengingat pelajaran ini dengan baik, dan bertahun-tahun kemudian, ia melanjutkan kebiasaan baik ibunya, kini dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Demikian paparan mengenai berbagai contoh cerpen singkat bermakna mendalam sebagaimana di atas.
Baca berita update lainnya dari Sonora.id di Google News
Baca Juga: 5 Contoh Cerpen Bertema Sumpah Pemuda yang Menginspirasi dan Lengkap