Untuk menciptakan masjid yang ramah anak, dibutuhkan pemahaman yang komprehensif tentang masjid dan segala aktivitas di dalamnya, terutama bagi pengurus dan jemaah tetap masjid tersebut.
Itulah sebabnya Allah jelaskan bahwa yang memakmurkan masjid adalah haruslah orang beriman yang beramal saleh, dan tidak takut kecuali kepada Allah.
Dalam Al-Qur‘ān Surah at-Taubah ayat 18 dijelaskan,
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. At-Taubah/9: 18)
Muḥammad Sayyid Ṭanṭāwy dalam tafsirnya “al-Wasīṭ li Al-Qur‘ān al-Karīm” mengomentari ayat tersebut dengan menjelaskan bahwa hendaknya bagi orang beriman yang memakmurkan masjid, memperhatikan hak-hak masjid dan siapapun jemaah di dalamnya, hendaklah bagi mereka memakmurkan masjid sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muḥammad saw.
Artinya, para pengurus dan jemaahnya tidak takut dengan kehadiran anak-anak, karena mereka juga punya hak di masjid.
Kita hendaknya hanya takut kepada Allah, apabila anak-anak tersebut jauh dari lingkungan masjid karena kesalahan kita dalam menyikapi kehadiran mereka.
Sudah saatnya jemaah masjid memberikan teladan dan pembelajaran kepada anak-anak di masjid; baik tentang tata cara beribadah atau pun bagaimana bermuamalah.
Ma`āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Melalui mimbar khotbah ini, marilah kita mengembalikan masjid yang ramah anak, dengan mengamalkan apa yang ditegaskan Allah di dalam Al-Qur‘ān dan meneladani apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muḥammad saw.
Setidaknya ada lima hal yang perlu kita perhatikan dan lakukan terhadap anak di dalam masjid. Pertama, tidak melakukan kekerasan fisik atau psikis.
Pengurus atau jemaah harus menghindari pemukulan, pembentakan, atau jenis kekerasan lainnya terhadap anak.
Berisiknya anak-anak harus ditangani dengan bijak, ramah, penuh raḥmah atau kasih sayang, tanpa harus menggunakan kekerasan, agar secara perlahan anak tersebut nyaman beribadah, belajar, dan bersosial di masjid.
Tidak bisa dibayangkan, anak yang mendapatkan kekerasan di dalam masjid, akan merasakan trauma berkepanjangan, tentu ini menjadi dosa jāriyah, karena telah menjauhkan anak-anak dari masjid.
Kedua, utamakan kasih sayang, sebagaimana yang Nabi Muḥammad ajarkan. Di dalam Ṣaḥīḥ Bukhārī dan Muslim, dijelaskan bahwa Nabi mengizinkan anak-anak bermain di masjid, beliau tidak marah, melarang, apalagi membentaknya, Nabi membiarkannya bermain sampai selesai, bahkan sesekali Nabi ikut bermain bersama mereka.
Nabi sangat menyayangi anak-anak, beliau senantiasa mencium atau menggendong cucu-cucunya, terutama Ḥasan, Ḥusein, dan Umāmah.
Kasih sayang Nabi terhadap anak-anak banyak disaksikan oleh sahabat, termasuk di dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, di mana Nabi pernah mengimami salat sambil menggendong cucunya, Umāmah binti Abī al-‘Ash, putri dari Zaynab binti Muḥammad saw. apabila Nabi hendak rukuk, Umamah diletakkan di bawah, begitu mau bangun dari sujud, Nabi menggendongnya kembali.
Dalam sebuah ḥadīṡ dijelaskan:
Diriwayatkan dari Abū Qatādah al-Anṣāry, ia berkata: Saya melihat Nabi saw. mengimami para sahabat salat sambil menggendong Umāmah binti Abī al-‘Ash, yaitu anaknya Zaynab binti Nabi saw. di atas pundaknya.
Apabila beliau hendak rukuk, beliau meletakkannya, dan apabila hendak bangun dari sujud, maka beliau menggendongnya kembali. (H.R. Al-Bukhārī dan Muslim).
Ma`āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Ketiga, tidak melakukan diskriminasi terhadap anak. Seringkali anak-anak dilihat sebagai pengganggu dan perusak saf salat, sehingga tidak boleh bagi anak-anak berdiri salat di saf terdepan.
Perilaku ini tidak berdasar, tidak ada dalam ajaran Islam saf anak-anak harus di belakang. Yang ada justru sebaliknya, Nabi menganjurkan anak-anak untuk dibiarkan di depan, agar bisa belajar dari orang dewasa bagaimana salat yang baik dan benar.
Ulama pun berpendapat bahwa tidak boleh menarik anak kecil ke belakang, apabila ia datang duluan dan mengambil posisi saf depan, karena ini termasuk sikap diskriminasi terhadap anak.
“Jika anak laki-laki datang lebih awal, mereka tidak boleh diusir untuk memberi tempat kepada laki-laki yang datang belakangan. Begitu pula jika mereka datang lebih awal ke saf pertama, mereka berhak menempatinya menurut pendapat yang benar.”
Sikap demikian tentu menggambarkan ajaran Islam yang mengedepankan keadilan dan kesetaraan, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan nilai-nilai kebenaran dari ajaran Islam.
Keempat, memprioritaskan kenyamanan bagi anak-anak. Dunia anak-anak adalah bermain, sedangkan dalam beribadah mereka dalam tahap belajar, sehingga penting memberikan kenyamanan di masjid agar betah belajar dan ibadah.
Poin ini sering diabaikan, terutama oleh para imam saat memimpin salat jahr (Magrib, Isya, dan Subuh).
Mereka membaca surah yang panjang-panjang, sehingga anak-anak merasa pegel dan jenuh melakukan salat.
Seharusnya, imam memperhatikan kondisi makmum, bukan fokus pada diri sendiri. Ada makmum yang tua renta, ada anak-anak, ada ibu-ibu yang sedang hamil, menyusui, atau sedang bersama bayi mereka.
Kondisi ini harus dikuasai dan diprioritaskan oleh imam. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi saw., di mana pada saat beliau menjadi imam, terdengar suara tangisan bayi, Nabi langsung mempersingkat salatnya.
Sesungguhnya Anas bin Mālik berkata, Nabi saw. bersabda:
“Saya pernah masuk dalam salat, dan saat itu saya ingin memperpanjang bacaan. Akan tetapi saya mendengar tangisan bayi, sehingga saya memendekkan salat. Karena saya tahu betapa sedih nya sang ibu karena tangisannya.”
Ḥadīṡ di atas menjelaskan betapa Nabi memperhatikan kenyamanan jemaahnya, termasuk anak-anak.
Kenyamanan menjadi poin penting, agar anak-anak betah dan senang melakukan ibadah di dalam masjid.
Ma`āsyiral muslimīn raḥimakumullāh,
Kelima, dan ini menjadi poin terakhir, selayaknya masjid menyiapkan fasilitas yang ramah dengan anak; seperti playground, buku-buku anak, dan pemantauan keamanan terhadap anak.
Playground atau tempat bermain anak seringkali terabaikan dalam pembangunan masjid, padahal sangat penting bagi kenyamanan anak atau bagi ibu yang membawa bayi atau anaknya.
Jangan sampai kalah dengan mall, salah satu alasan kenapa mall ramai karena menyiapkan tempat yang ramah buat anak bermain.
Selanjutnya adalah buku atau bahan bacaan, kebanyakan masjid menyiapkan mushaf Al-Qur‘ān dan buku-buku keagamaan yang berjilid-jilid, yang oleh orang dewasa saja berat membacanya, apalagi anak-anak.
Komik anak islami, novel anak, atau buku bacaan yang memang segmentasinya anak-anak, sudah seharusnya mengisi perpustakaan masjid, sehingga anak-anak mendapatkan pengetahuan dan kenyamanan.
Terakhir, tentunya masjid menyiapkan perangkat keamanan; baik satpam, CCTV, atau petugas lainnya yang terlatih, sehingga siap siaga menjaga anak dan memastikan anak-anak selamat dan aman ketika di masjid.
Apabila semua komponen sudah dilakukan, semoga masjid menjadi ramai anak, masjid menjadi ramah anak, dan syiar Islam akan terjaga dengan baik di tangan mereka.
Demikian khotbah singkat ini kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk kita semua.
Link PDF Teks Khutbah Jumat 6 Desember 2024
Untuk mengunduh teks khutbah Jumat di atas, Anda bisa klik tautan di bawah ini.
Link PDF Teks Khutbah Jumat 6 Desember 2024
Demikianlah paparan mengenai contoh teks khutbah Jumat 6 Desember 2024 lengkap dengan link PDF untuk mengunduhnya.
Baca Juga: Link PDF Teks Khutbah Jumat 22 November 2024 Mengenai Peran Guru
Baca artikel dan berita update lainnya dari Sonora.id di Google News.