"Namun, beberapa pasien sudah berusia 40 tahun, tetapi ketika diperiksa, kami menemukan bahwa kulit mereka masih berusia 35 tahun," tambah Norita Alat ini merekomendasikan program klinis yang sesuai dengan kondisi kulit pasien.
“Dengan begitu kita akan mengetahui program klinis yang harus diikuti pasien dan kemudian pasien akan berkonsultasi dengan dokternya,” katanya.
Selama analisis, dokter dan pasien melihat layar monitor yang sama dan secara bersamaan mengevaluasi kondisi kulit wajah pasien.
Beberapa ahli mengingatkan bahwa meskipun AI dapat mengidentifikasi pola tertentu dalam gambar kulit, akurasi diagnosis masih bergantung pada kualitas data yang diberikan serta algoritma yang digunakan.
Sehingga, kesalahan diagnosis atau interpretasi bisa saja terjadi, yang berisiko menyebabkan pengobatan yang salah atau kelalaian dalam mendeteksi kondisi serius seperti kanker kulit.
Selain itu, ada kekhawatiran tentang privasi dan keamanan data pribadi pengguna. Foto-foto kulit yang diunggah ke aplikasi berbasis AI berpotensi mengandung informasi sensitif, yang harus dikelola dengan hati-hati untuk mencegah penyalahgunaan.
Secara keseluruhan, meskipun teknologi AI dapat memberikan akses lebih mudah dan cepat dalam memeriksa kondisi kulit, penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kebutuhan akan konsultasi medis langsung.
Penulis: Juwita