Sonora ID – Lebih dari 6 agama, berbagai aspek wara lokal yang ada di Indonesia masih dipengaruhi oleh kepercayaan atau mitos yang tidak bisa dijelaskan dengan akal.
Dalam bentuk kisah yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lain, mereka bisa mempengaruhi cara orang berpikir sampai berperilaku sekelompok orang.
Percaya atau tidak, berikut adalah larangan pernikahan yang sampai saat ini masih diikuti oleh keluarga adat yang tinggal di Jawa.
Pernikahan antara Anak Pertama dan Ketiga
Pernikahan oleh seorang anak pertama atau ketiga disebut sebagai pernikahan Siji Karo Telu atau Jilu.
Pernikahan ini dianggap akan mendatangkan marabahaya bagi keluarga yang dibangun pasangan nikah dan juga keluarga besar kedua belah pihak.
Kepercayaan yang dimiliki orang Jawa menganggap bawa pernikahan ini bisa memunculkan konflik kepribadian, ekonomi dan bahkan kesehatan.
Pernikahan antara Anak Pertama
Sama seperti pernikahan anak pertama dan ketiga, pernikahan antar anak pertama atau Siji Jejer Telu adalah pernikahan yang bisa membawa musibah.
Baca Juga: 5 Hal Menarik Soal Mitos Duduk di Depan Pintu, Benarkah Susah Dapat Jodoh?
Menggelar Upacara Pernikahan pada Bulan Suro atau Muharram
Bulan suro dalam kalender Jawa sama seperti bulan Muharram pada Kalender Islam.
Kalender Jawa dipercaya sudah pimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin kesultanan Mataram (1613-1645)
Orang Jawa mempercayai bahwa bulan ini adalah bulan suci, sakral dan keramat dimana tidak hanya pernikahan tetapi acara lainnya seperti hajatan tidak boleh dilakukan oleh manusia yang kurang ‘kuat.’
Pasangan yang rumahnya Berjarak Lima Langkah atau Berseberangan
Pernikahan dengan tetangga dengan jarak lima langkah atau berseberangan dapat membawa kesialan dan ketidakharmonisan dalam keluarga.
Salah satu solusi untuk menghindari dari nasib buruk yang mungkin dibawa pernikahan ini adalah dengan merenovasi salah satu rumah pasangannya.
Rumah dibuat seakan-akan tidak menghadap satu sama lain dan dampak kesialannya juga seakan-akan tidak pernah terjadi.
Selain itu, salah satu pasangan juga dapat “dikeluarkan” dari keluarga, sehingga orang tersebut dianggap bukan bagian keluarga yang tinggal di seberang pasangannya.
Tidak Cocok Menurut Perhitungan Weton
Orang jawa masih sangat mempercayai hukum primbon yang bisa memprediksi kecocokan seorang pasangan dari hari lahir masing-masing.
Pasangan Senin Kliwon dan Selasa Legi, Jumat Pon dan Kamis Pahing, serta Senin Legi dan Minggu Wage adalah beberapa pasangan yang dikaruniai rezeki, kesesuaian kepribadian dan durasi pernikahan yang bertahan lama.
Sebaliknya, Weton Wage dengan Weton Pahing, Weton dengan Neptu 25, Weton dengan Neptu 26 adalah beberapa kombinasi pasangan yang jika menikah akan menghadapi banyak rintangan dalam pernikahannya.
Kedua keluarga orang Jawa biasanya akan menanyakan weton calon pasangannya untuk melihat kecocokan sebelum menjalani pernikahan
Jika tidak cocok, beberapa keluarga akan bersikeras untuk membatalkan pernikahan tersebut.
Baca Juga: 7 Mitos Jawa yang Ternyata Masuk Akal dan Tak Bisa Dianggap Remeh