Model pengelolaan Danantara merujuk pada konsep Temasek Holdings Limited di Singapura, yang merupakan badan pengelola investasi di luar APBN.
Danantara memiliki peran yang mirip dengan Indonesia Investment Authority (INA), yang nantinya akan dikonsolidasikan ke dalam badan ini.
Dengan cakupan yang lebih luas, Danantara tidak hanya mengelola aset tertentu, tetapi juga mengonsolidasikan berbagai aset pemerintah di berbagai kementerian untuk menciptakan efisiensi yang lebih besar.
Baca Juga: 5 Gubernur Paling Kaya yang Baru Dilantik Prabowo, Simak Daftar Kekayaannya!
Berapa investasi yang ditampung?
Sebagai badan pengelola investasi, Danantara akan mengelola aset negara dan mendanai berbagai proyek strategis nasional.
Pemerintah menargetkan total aset yang dikelola mencapai lebih dari 900 miliar dolar AS (sekitar Rp 14.000 triliun).
Pada tahap awal, investasi awal Danantara mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 326 triliun, yang bersumber dari efisiensi anggaran dalam APBN 2025.
Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga 982 miliar dolar AS, menjadikan Danantara sebagai sovereign wealth fund terbesar keempat di dunia.
Diketahui, Danantara akan mengonsolidasi Lembaga Pengelola Investasi atau INA dan tujuh BUMN, yaitu Bank Mandiri, Bank BRI, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Pertamina, Bank BNI, Telkom Indonesia, dan MIND ID.